Ribuan Jamaah Padati Pengajian 1.000 Hari Sugiyono dan 100 Hari Suparmiyatun, Agna Firliyani: Wujud Cinta dan Bakti kepada Orang Tua


Siaran Kabar | SEMARANG – Sekitar 2.000 jamaah menghadiri pengajian akbar dan doa bersama dalam rangka memperingati 1.000 hari wafatnya almarhum Bapak Sugiyono serta 100 hari wafatnya almarhumah Ibu Suparmiyatun. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Baitul Quddus, Jalan Gebang Anom Raya, Kelurahan Gebangsari, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jumat malam (30/10/2026).

Pengajian yang dimulai pukul 19.30 WIB hingga 00.30 WIB tersebut dihadiri masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Semarang dan sekitarnya. Ribuan jamaah mengikuti rangkaian acara dengan khidmat, mulai dari pembacaan Surah Yasin, tahlil, doa bersama, hingga pengajian yang dipadukan dengan seni pewayangan.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mendoakan kedua almarhum dan almarhumah, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan syiar Islam di tengah masyarakat.

Menariknya, pengajian akbar tersebut mengusung semangat nguri-uri budaya, yakni melestarikan budaya Jawa melalui perpaduan dakwah Islam dengan seni pewayangan. Konsep tersebut dihadirkan melalui tausiyah dan dakwah K.H. Abdur Rochim, yang dikenal dengan sebutan Kyai Joko Gogo-Goro dari Demak.

Agna Firliyani: Pengajian sebagai Wujud Cinta dan Bakti kepada Orang Tua

Perwakilan anak almarhum, Agna Firliyani, menyampaikan bahwa penyelenggaraan pengajian akbar dan doa bersama tersebut merupakan bentuk penghormatan, ungkapan kasih sayang, sekaligus wujud bakti anak kepada kedua orang tua yang telah lebih dahulu berpulang.

Baginya, peringatan 1.000 hari wafatnya almarhum Bapak Sugiyono dan 100 hari wafatnya almarhumah Ibu Suparmiyatun bukan sekadar tradisi atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi kesempatan bagi keluarga untuk kembali mengenang keteladanan, kebaikan, serta nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan kedua orang tua.


Foto : Suasana pengajian akbar yang dihadiri sekitar 2.000 jamaah dari berbagai wilayah di Kota Semarang dan sekitarnya berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan.

Agna menjelaskan, keluarga ingin mengisi momentum tersebut melalui kegiatan keagamaan yang tidak hanya memberikan manfaat bagi keluarga, tetapi juga membawa kebaikan bagi masyarakat luas.

Menurutnya, doa yang dipanjatkan bersama menjadi salah satu bentuk ikhtiar anak dan keluarga untuk terus memberikan penghormatan kepada orang tua, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan di dunia merupakan perjalanan sementara.

Dalam keterangannya, Agna juga menyampaikan harapan agar kegiatan tersebut dapat menjadi pengingat bagi seluruh jamaah tentang pentingnya menghormati orang tua, menjaga hubungan kekeluargaan, serta memperbanyak amal kebaikan selama masih diberikan kesempatan hidup.

Keluarga, lanjutnya, merasa bersyukur atas kehadiran ribuan jamaah, para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan bersama-sama memanjatkan doa.

Dakwah Islam Berpadu dengan Seni Pewayangan

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengajian tersebut adalah kehadiran K.H. Abdur Rochim atau Kyai Joko Gogo-Goro dari Demak. Ia menyampaikan dakwah dengan pendekatan seni pewayangan yang menggabungkan pesan-pesan keislaman dengan kearifan budaya Jawa.

Perpaduan tersebut menjadi bagian dari upaya keluarga untuk menghadirkan syiar Islam melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Seni pewayangan dinilai memiliki potensi sebagai media penyampaian pesan moral, keteladanan, dan nilai-nilai kehidupan. Melalui pendekatan tersebut, jamaah tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga tuntunan dan pesan keagamaan.

Semangat nguri-uri budaya yang diangkat dalam kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian tradisi leluhur dapat berjalan berdampingan dengan penguatan nilai-nilai keislaman.

Sambutan Keluarga Disampaikan H. Sumanto Tirtowijoyo

Dalam kesempatan tersebut, sambutan pihak keluarga disampaikan oleh H. Sumanto Tirtowijoyo, tokoh agama yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Wilayah Mathla'ul Anwar Provinsi Jawa Tengah periode 2023–2026.

Sambutan tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara yang menegaskan makna kebersamaan keluarga dan masyarakat dalam mengenang kedua almarhum dan almarhumah.

Adapun rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, dilanjutkan tahlil dan doa bersama. Acara juga diisi penayangan video bertajuk "Suara Hati dari Buah Hati", pengajian, serta dakwah melalui seni pewayangan oleh Kyai Joko Gogo-Goro.

Penayangan video tersebut menjadi salah satu bagian yang memberikan nuansa emosional dalam kegiatan, sebagai ungkapan kasih sayang dan kenangan anak kepada kedua orang tua.

Supriyadi: Momentum Mengenang Keteladanan dan Kebaikan

Sementara itu, H. Supriyadi, S.Sos., M.A., Ketua DPRD Kota Semarang periode 2014–2019, menyampaikan bahwa peringatan 1.000 hari wafatnya almarhum Bapak Sugiyono dan 100 hari wafatnya almarhumah Ibu Suparmiyatun memiliki makna mendalam bagi keluarga besar.

Menurut Supriyadi, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni peringatan, melainkan momentum untuk mengenang jasa, keteladanan, serta nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan kedua almarhum kepada keluarga dan lingkungan masyarakat.

Ia turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh masyarakat, para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan yang telah hadir dan memberikan doa.

"Kami turut mengucapkan terima kasih atas kehadiran, perhatian, dan doa dari seluruh masyarakat, para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta semua pihak yang berkenan hadir. Semoga melalui pengajian dan doa bersama ini, almarhum Bapak Sugiyono dan almarhumah Ibu Suparmiyatun senantiasa mendapatkan ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi Allah SWT," ungkap Supriyadi usai kegiatan.

Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kebersamaan dan persaudaraan di tengah masyarakat, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga silaturahmi, berbuat kebaikan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dihadiri Berbagai Unsur Masyarakat

Pengajian akbar tersebut turut mengundang sejumlah pejabat pusat di Jakarta, pejabat pemerintahan di Jawa Tengah, unsur TNI-Polri, pimpinan lembaga negara, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga masyarakat.

Kehadiran sekitar 2.000 jamaah menjadi gambaran kuatnya kebersamaan masyarakat dalam kegiatan keagamaan tersebut.

Seluruh rangkaian acara berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

Melalui pengajian akbar dan doa bersama ini, keluarga besar almarhum Bapak Sugiyono dan almarhumah Ibu Suparmiyatun berharap doa yang dipanjatkan bersama menjadi amal kebaikan bagi semua yang hadir.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan meninggalkan pesan bagi generasi penerus mengenai arti kasih sayang, penghormatan kepada orang tua, pentingnya persaudaraan, serta tanggung jawab menjaga warisan budaya.

Pada akhirnya, pengajian ini menjadi gambaran bahwa doa untuk orang tua yang telah berpulang, penguatan syiar Islam, dan pelestarian budaya luhur dapat berjalan beriringan dalam satu majelis yang penuh makna. (YI/Jateng)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama