Siaran Kabar | SEMARANG – Mengenang orang yang telah berpulang tidak hanya dilakukan melalui doa, tetapi juga dengan menjaga hubungan persaudaraan dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang ditinggalkan. Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam Pengajian Berkah untuk memperingati 100 hari wafatnya almarhumah Ibu Suparmiyatun di kawasan Genuk, Kota Semarang, Rabu malam, 21 Oktober 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan keluarga almarhumah di kediamannya itu diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Surah Yasin, tahlil, doa bersama, dan tausiyah keagamaan. Keluarga, kerabat, serta jamaah yang hadir mengikuti rangkaian acara sebagai bentuk penghormatan sekaligus ikhtiar mendoakan almarhumah.
Dalam tausiyahnya, Ki Sabdo Carito atau Kyai Raden Marsudi, Ketua Pusat Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Langgeng Samudera, mengajak jamaah menjadikan kematian sebagai pengingat untuk memperbaiki kualitas kehidupan. Ia menekankan bahwa waktu yang dimiliki manusia semestinya digunakan untuk memperbanyak ibadah, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan melakukan perbuatan yang bermanfaat.
“Kelahiran adalah awal perjalanan manusia, sedangkan kematian merupakan kepastian yang akan dihadapi setiap orang,” demikian pesan yang diangkat dalam materi tausiyah tersebut.
Menurut pesan keagamaan yang disampaikan, kesadaran terhadap kematian hendaknya mendorong setiap orang untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup. Kebaikan dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti membantu sesama, menjaga ucapan, menghormati orang tua, serta menyelesaikan persoalan dengan saling memaafkan.
Manusia, lanjut pesan tersebut, tidak selalu mengetahui kapan kesempatan hidupnya berakhir. Karena itu, menebarkan kebaikan tidak seharusnya ditunda hingga seseorang memiliki banyak harta atau kedudukan.
“Jangan menunda berbuat baik karena kita tidak pernah mengetahui batas waktu kehidupan. Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, manfaatkanlah untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat,” demikian pesan yang menjadi inti refleksi dalam pengajian tersebut.
Keluarga Kenang Almarhumah melalui Doa Bersama
Perwakilan keluarga, Suwito, menyampaikan bahwa pengajian tersebut menjadi kesempatan bagi keluarga untuk mengenang almarhumah sekaligus menyampaikan rasa terima kasih kepada para tamu yang hadir dan mendoakan.
Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa meskipun 100 hari telah berlalu sejak Ibu Suparmiyatun berpulang ke rahmatullah, kasih sayang, kenangan, dan kebaikan almarhumah tetap melekat dalam ingatan keluarga.
“Seratus hari telah berlalu sejak almarhumah Ibu Suparmiyatun berpulang ke rahmatullah. Namun, kasih sayang, kenangan, dan kebaikan beliau akan selalu hidup di hati kami,” kata Suwito.
Ia menjelaskan, doa bersama tersebut menjadi bentuk ikhtiar keluarga untuk memohon ampunan dan rahmat Allah SWT bagi almarhumah. Keluarga berharap seluruh amal ibadah almarhumah diterima dan segala kekhilafannya mendapatkan ampunan.
Suwito juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila semasa hidup almarhumah pernah melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja.
“Kami sekeluarga memohon maaf apabila semasa hidup almarhumah terdapat kesalahan atau kekhilafan kepada Bapak, Ibu, dan saudara sekalian. Mohon kiranya dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya,” ujarnya.
Selain itu, ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan doa para tamu undangan. Pihak keluarga juga memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun penyediaan hidangan selama kegiatan berlangsung.
Doa Dipimpin Tokoh Organisasi Keagamaan
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sholikin, dilanjutkan pembacaan Surah Yasin yang dipimpin Kyai Musbikin dan tahlil oleh Kyai Tohari.
Doa bersama dipimpin Haji Sumanto Tirtowijoyo, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Mathla’ul Anwar Jawa Tengah periode 2021–2026. Dalam sesi tersebut, keluarga dan jamaah memanjatkan doa agar almarhumah Ibu Suparmiyatun memperoleh ampunan, dilapangkan alam kuburnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Acara dipandu Muhammad Ikhsan selaku pembawa acara. Selain rangkaian ibadah dan tausiyah, pengajian juga diiringi penampilan musik religi dari Nada Suara Semarang, yang menghadirkan dua penyanyi religi dan seorang pemain biola.
Lantunan musik bernuansa Islami melengkapi suasana kebersamaan keluarga dan jamaah. Setelah rangkaian acara resmi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah untuk mempererat hubungan antara keluarga, kerabat, dan masyarakat.
Melalui Pengajian Berkah tersebut, keluarga berharap doa untuk almarhumah terus mengiringi perjalanan hidupnya di alam keabadian, sementara orang-orang yang ditinggalkan dapat mengambil hikmah untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Lebih dari sekadar mengenang 100 hari wafatnya seseorang, kegiatan itu menjadi pengingat bahwa menjaga silaturahmi, saling memaafkan, dan menebarkan kebaikan merupakan nilai yang perlu dirawat selama manusia masih diberi kesempatan hidup. (YI)

