YOGYAKARTA | SIARAN KABAR - Ruang Sidang DPRD DIY sempat mendadak riuh akibat aksi penurunan foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara sepihak pada Kamis,5 November 2026 , memicu Sultan HB X angkat bicara kemedia masa.
Tegas Salah satu warga /masyarakat sontak kaget degan Kejadian tidak terduga ini pun langsung memancing perhatian publik secara luas dan memicu berbagai spekulasi hangat di tengah masyarakat kota Yogyakarta dan para pemerhati budaya setempat.
Melihat situasi yang mulai tak terkendali dan bagai bola liar di ranah publik, Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, akhirnya turun tangan. Beliau memberikan respons yang sangat tegas namun tetap disampaikan dengan ciri khas ketenangan dan kewibawaan seorang pamong daerah dalam arti seorang pemangku adat di Yogyakarta dan sekitarnya.
Dalam keterangannya, Sri Sultan meluruskan persepsi keliru dan menegaskan bahwa foto resmi Presiden serta Wakil Presiden yang dipasang di gedung pemerintahan bukanlah pajangan estetika atau dekorasi ruangan biasa tetapi suatu simbol demokrasi yang selama ini sudah berjalan.Foto tersebut adalah bagian dari simbol negara yang keabsahannya dilindungi oleh konstitusi, sehingga tidak boleh diperlakukan sembarangan, tegas Sultan.
Lebih lanjut, beliau menyoroti pentingnya etika politik di ruang formal publik. Sebagai tempat berkumpulnya para wakil rakyat, Gedung DPRD DIY seharusnya memosisikan diri sebagai teladan utama dalam menghormati setiap tata tertib institusional di wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia / NKRI.Menurunkan lambang kepemimpinan negara tanpa dasar hukum yang jelas dinilai mencederai marwah institusi itu sendiri.
Melalui tanggapan ini, Sri Sultan juga secara tidak langsung menyampaikan pesan sejuk agar semua pihak bisa menahan diri dan saling menjaga konstitusi. Beliau mengajak masyarakat untuk tidak mencampuradukkan sentimen kelompok atau dinamika politik praktis ke dalam simbol identitas negara. Ketegasan berbalut ketenangan dari Sultan ini pun sukses meredam percikan konflik politik lokal, sekaligus mengingatkan esensi pentingnya menjaga rasa hormat bernegara dan berbangsa, imbuh Sultan HB X.
Dengan kondisi saat ini yang sadang tidak baik, salah satu Warga menjelaskan bahwa kita sebagai warga negara jangan mudah terprovokasi oleh pihak - pihak manapun baik oleh perorangan atau golongan, justru kita harus banyak prihatin dan berdoa agar bangsa dan negara lekas membaik, ingat kita masih memiliki anak cucu yang nanti menggantikan kita sebagai penerus peradaban nusantara. Jika kita saat ini tidak memberikan contoh yang baik ke sesama maka kita sudah membuat diri kita tersakiti dengan sendirinya, oleh sebab itu mari kita saling menjaga persatuan / kesatuan perdamaian di Nusantara yang kita cintai, tegasnya. (Red/alfian)