YOGYAKARTA | SIARAN KABAR – Anggota Yayasan Kedhaton Mataram Agung menghadiri undangan kegiatan Wadah Ketuhanan Jakarta yang diselenggarakan oleh Yayasan Cakrawala Dharma Indonesia di pusat Kota Yogyakarta, pada 24–25 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut berjalan aman, tertib, dan lancar.
Kegiatan ini mengangkat pembahasan mengenai kebudayaan, spiritualitas, serta filsafat ajaran Taoisme. Acara tersebut dihadiri sekitar 90 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Semarang, Bandung, Ambarawa, Salatiga, Kabupaten Semarang, Nganjuk, Grobogan, dan Yogyakarta.
Pertemuan ini menjadi wadah bagi para pemerhati budaya, sesepuh, budayawan, serta pelaku kegiatan spiritual untuk memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai beragam tradisi filsafat dan kebudayaan.
Salah satu materi utama yang dibahas dalam kegiatan tersebut adalah Taoisme, sebuah tradisi filosofis, spiritual, dan keagamaan yang berasal dari Tiongkok serta menekankan pentingnya hidup selaras dengan Tao, yakni jalan atau prinsip yang mengatur alam semesta.
Mengenal Sejarah dan Konsep Dasar Taoisme
Dalam pemaparan materi, Taoisme secara historis dikaitkan dengan Laozi atau Lao Tse, seorang tokoh pemikiran Tiongkok kuno. Salah satu karya utama yang dikaitkan dengannya adalah Daodejing atau Tao Te Ching. Selain itu, pemikiran Taoisme juga berkembang melalui karya Zhuangzi.
Taoisme berkembang dari tradisi pemikiran filosofis menjadi tradisi spiritual dan keagamaan yang memiliki beragam praktik, ritual, serta ajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Adapun sejumlah konsep utama dalam Taoisme yang diperkenalkan kepada peserta meliputi:
1. Tao (Jalan)
Tao dipahami sebagai jalan atau prinsip mendasar yang menjadi sumber keteraturan dan perubahan dalam alam semesta. Konsep ini mengajarkan pentingnya memahami serta menjalani kehidupan dengan memperhatikan keselarasan alam.
2. Wu-wei (Bertindak Tanpa Paksaan)
Wu-wei merupakan prinsip bertindak secara alami tanpa pemaksaan atau ambisi yang berlebihan. Prinsip ini mengajarkan manusia untuk bersikap bijaksana, fleksibel, dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.
3. Yin dan Yang
Yin dan Yang menggambarkan dua unsur yang berbeda tetapi saling melengkapi, seperti terang dan gelap, aktif dan pasif, serta keras dan lembut. Keduanya menjadi simbol keseimbangan dalam kehidupan dan alam semesta.
4. De (Kebajikan)
De berkaitan dengan kebajikan atau kualitas moral yang diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari, seperti kerendahan hati, kesederhanaan, kelembutan, dan perilaku yang baik terhadap sesama.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah praktik yang berkaitan dengan Taoisme, seperti meditasi, latihan pernapasan, qigong, serta prinsip penataan lingkungan yang dikenal melalui feng shui.
Lin Sheng Li Paparkan Pemahaman Taoisme
Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Lin Sheng Li dari Surabaya, menyampaikan materi mengenai pemahaman dasar Taoisme, termasuk prinsip hidup selaras dengan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan.
Pada sesi pagi, peserta juga mengikuti pembahasan bertema vegetarian dengan Lin Sheng Li sebagai narasumber. Materi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pembelajaran dan pertukaran wawasan yang berlangsung selama dua hari.
Para peserta terlihat antusias mengikuti pemaparan materi. Latar belakang mereka yang berasal dari kalangan budayawan, pemerhati tradisi, dan pelaku kegiatan spiritual turut memperkaya diskusi mengenai hubungan antara manusia, alam, kebudayaan, dan kehidupan spiritual.
Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini memberikan ruang bagi peserta untuk mengenal Taoisme secara langsung melalui penjelasan narasumber, sekaligus membandingkan wawasan tersebut dengan tradisi kebudayaan Nusantara, termasuk nilai-nilai yang dikenal dalam tradisi Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Dalam penyelenggaraannya, panitia juga memfasilitasi kebutuhan peserta, mulai dari transportasi, konsumsi, hingga penginapan.
Peserta Apresiasi Kegiatan dan Penambahan Wawasan
Noor Hayati menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengikuti pembelajaran kebudayaan dan spiritualitas dalam suasana yang nyaman.
Sementara itu, Ki Tarno, salah seorang peserta dari Kota Semarang, mengungkapkan rasa terima kasih kepada panitia atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia menilai pertemuan selama dua hari di Yogyakarta memberikan pengalaman dan pengetahuan baru mengenai filsafat Taoisme.
Menurutnya, selama ini ia hanya mengetahui Taoisme melalui informasi yang diperoleh dari berbagai media. Melalui kegiatan tersebut, ia berkesempatan mempelajari ajaran tersebut secara langsung dari narasumber yang memiliki pemahaman mengenai bidang tersebut.
Pengalaman ini diharapkan dapat memperluas wawasan peserta dalam memahami beragam tradisi pemikiran dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat.
Dorong Kerukunan dan Penghargaan terhadap Keberagaman Budaya
Para pemerhati budaya yang mengikuti kegiatan tersebut berharap agar masyarakat Indonesia terus bersyukur atas kekayaan budaya, tradisi, dan pemikiran yang berkembang di Nusantara maupun di berbagai belahan dunia.
Mereka menekankan pentingnya membangun kehidupan bermasyarakat yang damai, saling menghormati, serta tidak mudah menghakimi perbedaan keyakinan dan pandangan hidup.
Semangat tersebut dinilai sejalan dengan upaya menjaga persatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Melalui kegiatan ini, para peserta berharap dapat terus belajar mengenai alam semesta, nilai-nilai kebudayaan, serta beragam tradisi filsafat dan spiritualitas dengan pikiran terbuka, tanpa mengabaikan sikap saling menghormati.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya dan pemikiran dapat menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, memperluas pengetahuan, serta menjaga persatuan di bawah panji Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Redaksi: Alfian

