Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Label

Dari Kapur Tulis ke Panggung Wayang, Jalan Dakwah Ki Sabdo Carito

Kamis, September 24, 2026 | 14:04 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-24T07:04:06Z

Siaran Kabar | SEMARANG — Ada masa ketika Raden Marsudi berdiri di depan kelas dengan kapur dan papan tulis sebagai bagian dari kesehariannya mengajar. Kini, setelah pensiun sebagai guru SD Negeri Pongangan, Gunungpati, Semarang, ia lebih sering berdiri di hadapan jamaah dengan wayang di tangan.


Bukan untuk sekadar menghibur

Wayang menjadi bagian dari cara Marsudi menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Dengan iringan musik, humor dan cerita, materi dakwah dikemas lebih cair sehingga jamaah tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak menikmati suasana.


Marsudi dikenal pula dengan nama panggung Ki Sabdo Carito. Ia telah menjalani aktivitas dakwah sejak 2015. Undangan ceramah datang silih berganti, mulai dari acara pernikahan, sunatan, haul, peringatan hari besar Islam hingga halalbihalal.


Wilayah dakwahnya pun tidak sebatas di Semarang. Ia pernah mendapat undangan ke Ungaran, Salatiga, Demak, Kendal, Temanggung, Klaten dan sejumlah daerah lainnya.


Namun ada satu hal yang kemudian membuat gaya dakwahnya berbeda.


Sejak 2017, Marsudi mulai membawa wayang ke dalam ceramahnya.


Ketika Wayang Masuk ke Pengajian

Ide tersebut tidak muncul begitu saja. Marsudi mengaku banyak belajar dari berbagai sumber. Ia kerap menyaksikan ceramah pengajian umum melalui YouTube sekaligus menikmati pertunjukan wayang kulit.


Dari sana muncul pemikiran untuk menggabungkan dua hal yang selama ini dekat dengan kehidupannya: dakwah dan budaya Jawa.


“Sekaligus nguri-uri budaya Jawa, toh juga metode ini merupakan peninggalan para wali. Tapi sayang mulai banyak ditinggalkan,” ujar Marsudi.


Ia menyebut konsep dakwah yang dibangunnya merupakan perpaduan antara ilmu, amal dan budaya.


Menurut Marsudi, metode tersebut membuat penyampaian pesan moral lebih mudah diterima. Terlebih ketika pesan agama diselipkan dalam cerita, dialog maupun humor yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.


Marsudi tidak hanya memiliki satu jenis wayang. Koleksinya mencapai puluhan dengan berbagai bentuk dan karakter.


Sedikitnya ada empat jenis wayang yang dimilikinya, yakni wayang klasik, wayang golek, wayang modern atau kontemporer, serta wayang pesantren.


Wayang pesantren menjadi salah satu koleksi yang digunakan untuk menggambarkan karakter dalam kehidupan keagamaan, seperti kiai, santri, ustaz, setan dan tokoh lainnya.


“Koleksi wayang saya jumlahnya puluhan. Semuanya saya gunakan untuk media berdakwah,” katanya.


Belajar dari Jamaah

Bagi Marsudi, berdakwah tidak cukup hanya menyiapkan materi. Seorang penceramah juga harus mampu membaca situasi.


Karena itu, selain menyiapkan materi terlebih dahulu, ia juga membuka ruang improvisasi ketika berada di tengah jamaah.


Pengalaman lucu pernah dialaminya ketika berceramah di Jimbaran dan Sumowono, Kabupaten Semarang. Saat itu, ia menemukan seorang jamaah yang memiliki nama persis seperti dirinya.


Kesamaan nama tersebut kemudian menjadi bahan candaan dalam ceramah. Suasana yang semula serius berubah menjadi penuh tawa. Jamaah yang memiliki nama sama dengannya pun ikut tertawa terpingkal-pingkal.


Bagi Marsudi, kejadian seperti itu justru dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan materi.


“Jadi metode ceramah ini lebih mudah dipahami, sekaligus nguri-uri budaya Jawa, yang saat ini mulai dilupakan generasi milenial,” ujarnya.


Ia menilai pendekatan budaya tetap relevan digunakan untuk berdakwah, terutama ketika kesenian tradisional mulai semakin jarang disentuh generasi muda.


Tidak Semua Harus Menggunakan Wayang

Meski identik dengan wayang, Marsudi tidak selalu menggunakan media tersebut dalam setiap pengajian.


Ada kalanya ia hanya berceramah seorang diri. Durasi ceramah biasanya sekitar satu hingga satu setengah jam.


Namun jika konsep lengkap digunakan dengan wayang, musik dan lawakan, acara dapat berlangsung hingga sekitar dua setengah jam.


Ia juga menghadirkan karakter punakawan seperti Gareng, Petruk dan Bagong ketika konsep pertunjukan membutuhkan unsur hiburan.


Untuk urusan honor ceramah, Marsudi mengaku tidak menetapkan tarif. “Pokoknya, seikhlasnya,” katanya.


Sedangkan untuk pengiring musik, biaya disesuaikan dengan jumlah pemain dan kesepakatan dengan pihak yang mengundang. Biaya tersebut antara lain digunakan untuk kebutuhan transportasi para pengiring yang datang dari daerah lain.


“Kalau pengundangnya tidak mampu, gratis. Cuma untuk pengiring, karena asalnya dari daerah lain, maka perlu biaya transport saja,” ujarnya.


Bukan Cita-Cita Masa Kecil

Marsudi lahir di Semarang pada 26 Desember 1963. Menjadi pendakwah bukanlah cita-citanya sejak kecil.


Aktivitas tersebut tumbuh dari kebiasaan mengisi ceramah di lingkungan Kelurahan Pakintelan. Dari jamaah lokal, undangannya kemudian meluas ke berbagai daerah.


Dalam perjalanan dakwahnya, Marsudi belajar ilmu agama dari Kiai Muhammad Arif asal Temanggung dan sejumlah kiai lainnya.


Sementara kemampuan menggunakan wayang diperoleh melalui belajar secara otodidak dan mengembangkan kreativitas sendiri.


“Dengan mengaji, orang mendapatkan ilmu dan bisa lebih paham agama. Dengan begitu bisa tambah kuat imannya, dan bisa diamalkan,” kata ayah empat anak tersebut.


Kini, setelah tidak lagi disibukkan dengan aktivitas mengajar sebagai guru, waktunya semakin banyak digunakan untuk berdakwah dan mengabdi kepada masyarakat.


Marsudi juga tercatat sebagai Ketua Takmir Masjid Irsyadul Jami, Ketua RW 3 Kelurahan Pakintelan serta Dewan Pengawas Lembaga Bantuan Hukum Rumah Pejuang Keadilan Indonesia.


Ia juga pernah menerima sejumlah kenang-kenangan atas kiprahnya, berupa piandel Kanjeng Sunan Giri atau Raden Ainul Yaqin, Keris Sumpono Carito dan Wayang Semar Bodronoyo, Semua masih tersimpan dan terawat.


Bagi Ki Sabdo Carito, wayang bukan sekadar benda koleksi. Di balik karakter dan ceritanya, ada ruang untuk menyampaikan pesan kehidupan.


Dari dunia pendidikan, ia kemudian melangkah ke dunia dakwah. Dari ceramah biasa, ia menemukan jalan lain melalui wayang. Dan dari panggung sederhana itu, Marsudi terus berusaha mempertemukan ilmu agama dengan budaya Jawa, agar pesan yang disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga mudah dipahami dan diingat jamaah.

×