TAPTENG // siarankabar.com - Luka akibat banjir bandang yang menerjang Desa Sibio-bio belum sepenuhnya sembuh. Di tengah kehilangan anggota keluarga, rumah, dan sumber mata pencaharian, sejumlah warga korban kini mengaku harus menghadapi kenyataan pahit: merasa belum tersentuh perhatian dan bantuan dari pemerintah desa.
Keluhan ini disampaikan salah satu perwakilan keluarga korban, Sibaya Agus Laoli, kepada kru siarankabar.com melalui sambungan telepon pada Kamis pagi (26/2/2026). Dengan suara bergetar, ia menggambarkan kondisi para penyintas yang hingga kini masih bertahan di posko pengungsian Sibio-bio yang berlokasi di Desa Muara Sibutuon, Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Kami sudah berbulan-bulan tinggal di posko. Hidup serba kekurangan. Kami kehilangan keluarga, kehilangan rumah, dan kehilangan mata pencaharian. Tapi sampai sekarang, kami merasa belum diperhatikan,” ungkapnya.
Menurutnya, sedikitnya tiga keluarga korban masih berada di pengungsian tanpa kepastian bantuan yang memadai. Mereka mengaku belum menerima bantuan sebagaimana yang dikabarkan telah disalurkan kepada warga terdampak lainnya.
Lebih memprihatinkan, para korban juga mendengar informasi mengenai kunjungan Kapolres ke wilayah tersebut yang disebut membawa bantuan bagi warga terdampak bencana. Namun, hingga kini mereka mengaku belum menerima bantuan tersebut.
“Kami dengar ada bantuan yang masuk. Tapi kami yang benar-benar tidak punya apa-apa ini belum menerima apa pun. Kami harus bagaimana lagi?” katanya lirih.
Para korban secara terbuka menyampaikan kekecewaan terhadap Pemerintah Desa Sibio-bio, khususnya kepada Kepala Desa Damianus Zendarato yang mereka nilai belum maksimal hadir di tengah penderitaan warganya.
“Kami mempercayakan beliau sebagai orang tua kami di desa ini. Tapi dalam situasi seperti ini, kami merasa seperti ditinggalkan. Kami sangat khawatir dengan masa depan kami,” ujarnya.
Saat ini, para penyintas mengaku hidup dalam ketidakpastian. Tanpa tempat tinggal tetap dan tanpa sumber penghasilan, mereka menggantungkan harapan pada uluran tangan pemerintah dan pihak terkait.
Mereka pun memohon perhatian serius dari Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah serta instansi terkait agar turun langsung memastikan kondisi warga di lapangan dan menjamin penyaluran bantuan berjalan adil dan tepat sasaran.
“Kami sudah kehilangan keluarga dan segalanya. Kami hanya ingin diperhatikan. Jangan sampai kami hanya dijadikan data atau angka semata,” tegasnya.
Sementara itu, kru siarankabar.com telah melakukan konfirmasi kepada Kepala Desa Sibio-bio, Damianus Zendarato. Saat dihubungi, yang bersangkutan memang merespons dengan melakukan panggilan telepon kepada awak media. Namun demikian, pihak awak media meminta agar jawaban dan klarifikasi atas sejumlah pertanyaan disampaikan melalui pesan tertulis (chat) demi menjaga akurasi pemberitaan serta dokumentasi.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Sibio-bio menyampaikan klarifikasi atau jawaban resmi dalam bentuk panggilan telpon whatsapp sebagaimana yang yang diminta awak media.Dengan demikian, menyatakan bahwa dirinya merasa benar dalam pembagian bantuan tersebut.
"Saya sudah menyampaikan kepada masyarakat untuk mengambil bantuan dirumah, karena sampai sekarang bantuan tersebut masih berada dirumah saya, tidak mungkin saya menyembah mereka untuk mengambil bantuan tersebut, siapa suruh mereka tidak mau ambil kerumah," Ucap kades.
Kabiro siarankabar.com Tapanuli Tengah akan terus mengawal perkembangan persoalan ini dan memperbarui informasi setelah memperoleh keterangan resmi dari pihak pemerintah desa maupun instansi terkait.
Bencana mungkin telah merenggut banyak hal dari warga Sibio-bio, namun harapan mereka akan keadilan dan kepedulian masih tersisa. Kini, publik menanti langkah nyata dari para pemangku kebijakan.
(S Lahagu)
💻Editor: Meijieli Gulo


