Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Label

Merawat Tradisi Menolak Bala, Mengintip Ruwatan Desa Glandang Bantarbolang Pemalang

Rabu, Juni 24, 2026 | 14:46 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-24T07:47:07Z
Siarankabar.com,Pemalang- Nuansa pergantian tahun baru Islam atau yang akrab dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro selalu menghadirkan nuansa magis sekaligus religius. Suasana khidmat dan semarak tampak begitu terasa di Desa Glandang ,Kecamatan Bantarbolang ,Kabupaten Pemalang ,saat ribuan warga tumpah ruah menggelar tradisi Ruwat Desa,

Pelaksanaan
acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa setempat bersama para tokoh adat dan pemuka agama ini,bukan sekadar seremonial belaka,Ruwat Desa menjadi wujud nyata pelestarian warisan leluhur yang dipadukan dengan nilai-nilai syiar Islam. 

Kegiatan dibuka sejak pagi hari dengan pawai iringan -iringan kirab budaya yang diikuti oleh ratusan anak-anak hingga orang tua, melambangkan harapan akan datangnya cahaya dan semangat baru di awal tahun.

Puncak acara berupa pagelaran wayang golek akan digelar pada malam hari, sedangkan prosesi ruwatan akan dipimpin oleh salah seorang Dalang terkenal dari Tegal,
 Sebelumnya, pagi hari digelar rangkaian arak-arakan dari 12 RT yang ada di desa Glandang, dengan masing- masing membuat gunungan hasil bumi,

kemudian diarak keliling mengelilingi desa,setelah prosesi ruwatan hasil bumi, seluruh warga membawa kembali hasil bumi yang telah disucikan. 

Penjabat Kepala Desa Glandang,, kecamatan Bantarbolang Zainal Imron, mengatakan bahwa prosesi ruwatan desa dengan tema Mandiri dan Berdikari ini sebagai implementasi kemandirian warga,
 
“Kegiatan ini bernama ruwat bumi, baritan, atau sedekah bumi, dengan tema Mandiri dan Berdikari, Penyampaian pesannya nanti disesuaikan dengan gaya dalang, namun secara garis besar mengusung semangat kemandirian masyarakat.” tutur Zainal ,pada Rabu ( 24/6 ).


Lebih lanjut, bahwa anggaran kegiatan bersumber dari swadaya masyarakat.

 “Setiap rumah tangga menyisihkan Rp500 setiap malam, dikumpulkan selama satu tahun penuh. Terkumpul sekitar Rp 60–65 juta. Selain itu ada bantuan dari donatur sekitar Rp 80 juta,” ungkapnya.

Keterlibatan seluruh warga dan kemandirian dalam penggalangan dana dinilai menjadi contoh positif bagi desa-desa sekitar. Panitia berharap tradisi ini terus dilestarikan dari generasi ke generasi, agar nilai-nilai luhur, rasa syukur, dan persatuan tetap tumbuh subur di tengah masyarakat Desa Glandang.*( Ragil)*
×