Tapteng // Siarankabar– Kerusakan citra Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu, S.H., M.H., diduga dipicu oleh perilaku oknum Tim Sukses serta pihak yang mengatasnamakan wartawan yang tergabung dalam kelompok Wartawan Istana Merasa Pengusaha (WI-MP).
Oknum-oknum tersebut diduga mengeksploitasi nama Bupati untuk kepentingan pribadi, salah satunya melalui pemfremingan pemberitaan terkait klaim pemulihan 90 persen pascabencana di Kecamatan Barus, yang justru memicu kemarahan warga dan berdampak pada citra kepemimpinan Masinton Pasaribu serta marwah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Hal itu disampaikan Demak MP Panjaitan alias Pance, salah satu kader senior PDI Perjuangan sekaligus pendiri PDI Perjuangan di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapteng, kepada MEDIA-DPR.COM, Minggu (4/1/2026), di Tapteng.
Pernyataan tersebut disampaikan Pance setelah dirinya melihat sejumlah video keluhan warga Kecamatan Barus yang diunggah ke media sosial Facebook pada Sabtu (3/1/2026), serta membaca berbagai pemberitaan di media sosial.
Dengan nada kesal, Pance menegaskan bahwa dirinya memahami betul niat awal Masinton Pasaribu maju sebagai Bupati Tapteng.
“Saya tahu Masinton hadir dan menjadi Bupati Tapteng dengan niat tulus. Ia mengusung semangat ‘Tapteng Naik Kelas, Adil untuk Semua’, sebuah jargon yang lahir dari pemikiran dan perjuangannya sendiri,” ujar Pance.
Pance kemudian memaparkan sejumlah capaian positif selama masa kepemimpinan Masinton Pasaribu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam kurun waktu tujuh bulan kepemimpinannya, angka kemiskinan di Tapteng menurun dari 11,80 persen pada Maret 2024 menjadi 11,03 persen pada Maret 2025.
Selain itu, garis kemiskinan mengalami kenaikan dari Rp527.227 menjadi Rp546.223 per kapita per bulan. Pertumbuhan ekonomi Tapteng pada triwulan II tahun 2025 juga meningkat menjadi 4,79 persen (year on year), dari sebelumnya 3,78 persen, yang ditopang oleh sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Tak hanya itu, Masinton Pasaribu juga dinilai berhasil melakukan mediasi antara warga dan PT Nauli Sawit, sehingga tembok yang selama bertahun-tahun menutup akses jalan warga akhirnya dibuka dan kembali mempermudah aktivitas masyarakat.
Dalam pengelolaan keuangan daerah, Masinton juga disebut berupaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta melakukan efisiensi anggaran untuk memprioritaskan pelayanan publik, di antaranya melalui pengadaan alat pemadam kebakaran dan perluasan layanan administrasi kependudukan hingga ke tingkat kecamatan.
Namun demikian, Pance tidak menampik adanya kritik serius terhadap kepemimpinan Masinton Pasaribu. Salah satunya adalah penolakan sebagian warga Barus terhadap kehadiran Bupati, yang menilai dirinya tidak hadir secara maksimal saat bencana terjadi dan hanya muncul untuk kepentingan pencitraan.
Selain itu, dugaan pemfremingan pemberitaan terkait pemulihan pascabencana yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan telah memperburuk persepsi publik serta menimbulkan keraguan terhadap komitmen pemerintah daerah dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Pance juga menyoroti masih tingginya ketergantungan keuangan daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat, sementara target peningkatan PAD dinilai belum sepenuhnya terealisasi secara konkret.
“Artinya, meskipun ada capaian yang patut diapresiasi, tantangan dan kritik tersebut tidak bisa diabaikan dalam menilai apakah kepemimpinan ini benar-benar membuat Tapteng naik kelas dan lebih baik dari sebelumnya,” tegasnya.
Untuk memulihkan kepercayaan publik, Pance menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh serta pembersihan elemen-elemen “benalu” di sekitar kepala daerah. Selain itu, ia juga mendorong pembentukan sistem pengawasan internal yang kuat, agar tidak ada lagi pihak yang menyalahgunakan nama Bupati untuk kepentingan pribadi tanpa kontrol yang jelas.
“Ini penting agar kejadian serupa tidak terulang dan kepemimpinan Masinton Pasaribu bisa berjalan sesuai harapan rakyat,” pungkasnya.
🖍️Penulis: S Lahagu
💻Editor: Bung Meiji


