Siarankabar.com, Pemalang - Duka mendalam menyelimuti keluarga MHA, siswa kelas II sekolah dasar di Kecamatan Pemalang, Jawa Tengah. Bocah berusia 8 tahun itu meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami sakit dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit.
Di tengah suasana duka, keluarga korban mengungkap adanya dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah kakak kelas korban. Keluarga menyebut, sebelum meninggal, MHA sempat mengaku kepada ibunya bahwa dirinya mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.
Pengakuan tersebut kini menjadi perhatian serius. Sebab, keluarga mempertanyakan rangkaian peristiwa yang dialami MHA sejak dugaan kejadian pada Agustus 2026 hingga akhirnya kondisi kesehatannya memburuk dan meninggal dunia.
Ibu korban, Diah Indriati (36), warga Kelurahan Kebondalem, Pemalang, mengatakan dirinya awalnya tidak mengetahui jika anaknya diduga mengalami kekerasan.
Menurut Diah, kondisi MHA mulai mengkhawatirkan ketika anaknya mengalami demam, muntah, serta keluhan sakit pada bagian tubuh tertentu.
Saat diperiksa di fasilitas kesehatan, keluarga kemudian mendapat keterangan mengenai adanya dugaan bekas benturan atau pukulan.
“Anak saya tidak cerita apa yang dialaminya. Saya tahunya saat diperiksa di klinik kesehatan. Dokter bilang sakitnya bukan karena pola makan atau penyakit biasa, katanya seperti ada pukulan,” ujar Diah saat ditemui di rumahnya, Kamis (1/10).
Diah mengatakan, setelah ditanya, MHA kemudian bercerita bahwa dirinya diduga dipukuli oleh kakak kelas.
“Anak saya baru cerita, ‘Iya Bu, saya dipukuli kakak kelas, ada tiga anak.’ Sejak kejadian itu diperiksa, kemudian sempat opname,” tambah Diah
MHA disebut sempat menjalani perawatan di RSUD dr M Ashari Pemalang. Namun, kondisi kesehatan korban menurut keluarga tidak kunjung membaik hingga akhirnya korban meninggal dunia di rumah.
Keluarga Pertanyakan Sikap Sekolah
Diah juga mempertanyakan penanganan pihak sekolah terhadap dugaan kejadian tersebut. Ia mengaku mendapat informasi bahwa pihak sekolah telah mengetahui adanya perselisihan antar-siswa.
Menurut keluarga, informasi mengenai kondisi MHA dan dugaan perundungan tersebut tidak disampaikan secara terbuka kepada orang tua korban.
“Pihak sekolah sudah tahu. Bahkan kepala sekolah katanya kalau sudah ketahuan akan mengeluarkan anaknya. Tapi ketika ibu-ibunya datang ke sini, pihak sekolah dan wali murid tidak memberi tahu,” ujar Diah.
Keluarga berharap dugaan kejadian tersebut dapat ditelusuri secara menyeluruh, termasuk memastikan apakah terdapat keterkaitan antara kejadian di sekolah dengan kondisi kesehatan MHA hingga meninggal dunia.
*Plt Bupati: Ada Perselisihan, CCTV Sekolah Jadi Sorotan*
Plt Bupati Pemalang Nurkholes turut mendatangi rumah duka dan menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai dugaan perundungan tersebut.
Nurkholes mengatakan, berdasarkan informasi awal yang diperolehnya setelah mendatangi sekolah, terdapat perselisihan antarsiswa yang kemudian berujung pada dugaan senggol-senggolan dan pemukulan.
“Tadi kami langsung ke sekolah menanyakan kronologi kejadian. Informasi yang kami dapat, anak MHA memang ada perselisihan, kemudian terjadi senggol-senggolan dan pemukulan,” kata Nurkholes.
Menurutnya, setelah kejadian tersebut korban masih sempat beraktivitas dan masuk sekolah. Sekitar satu minggu kemudian, MHA mengalami keluhan kesehatan hingga akhirnya menjalani perawatan.
Nurkholes menegaskan, penyebab pasti kematian korban masih harus menunggu hasil pemeriksaan medis serta penelusuran lebih lanjut.
“Kejadiannya cukup lama dan ini nanti tentu sudah dilakukan otopsi. Kita tunggu seperti apa hasilnya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pemerintah daerah tidak mentoleransi segala bentuk perundungan terhadap anak di lingkungan pendidikan.
*CCTV Sekolah Jadi Perhatian*
Nurkholes mengakui terdapat persoalan pada sistem CCTV di sekolah yang menjadi lokasi kejadian. Menurutnya, ke depan keberadaan dan fungsi CCTV perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi peserta didik.
"Yang jelas seluruh sekolah harus kita pasang CCTV dan alat perekam itu harus berjalan,” tegasnya.
Ia mengatakan pemerintah daerah juga akan mengumpulkan jajaran terkait, termasuk Dinas Pendidikan, untuk mencari mekanisme pencegahan dan pelaporan yang memungkinkan siswa maupun orang tua menyampaikan dugaan kekerasan tanpa rasa takut.
“Biasanya masih ada ketakutan anak untuk melaporkan. Ini yang nanti kita cari formulanya agar sekolah ramah anak dan siapapun yang bertengkar segera melapor,” ujarnya.
Terkait dugaan kelalaian pihak sekolah, Nurkholes mengatakan berdasarkan informasi awal yang diterimanya, kejadian tersebut belum dapat langsung dikategorikan sebagai kelalaian sekolah.
“Ini berdasarkan informasi tadi bukan kelalaian. Pada saat kejadian, siswa sudah diinterogasi dan tidak ada rasa sakit yang dirasakan,” ujarnya.
Namun, ia kembali menyoroti pentingnya evaluasi terhadap sistem pengawasan sekolah, terutama setelah diketahui CCTV di lokasi tidak berfungsi secara optimal.
Kini keluarga MHA masih menunggu kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi terhadap bocah tersebut sebelum meninggal dunia.
Dugaan perundungan yang disampaikan keluarga masih perlu diverifikasi melalui keterangan pihak sekolah, saksi-saksi, pemeriksaan medis, serta penelusuran aparat berwenang.
Penyebab pasti meninggalnya MHA dan apakah terdapat hubungan langsung dengan dugaan kekerasan di sekolah belum dapat disimpulkan sebelum seluruh proses pemeriksaan selesai.
Bagi keluarga, persoalan ini bukan sekadar mencari siapa yang bertanggung jawab. Mereka ingin mengetahui secara terang rangkaian kejadian yang dialami MHA agar kasus serupa tidak kembali terjadi pada anak-anak lain.
Kini, sorotan publik tertuju pada proses penelusuran kasus tersebut: apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan sekolah, bagaimana pengawasan terhadap para siswa, dan apakah dugaan perundungan tersebut memiliki kaitan dengan kondisi korban hingga meninggal dunia. (Ragil).



