Siarankabar.com,Pemalang - Kawasan Masjid Agung dan Alun-Alun Pemalang kembali menjadi sorotan. Bukan karena keramaian warga atau geliat aktivitas ekonomi, tetapi karena maraknya aktivitas meminta-minta yang semakin mudah ditemui di kawasan jantung Kota Pemalang.
Fenomena tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian masyarakat. Pemberitaan pada September 2026 menyebut sejumlah pengemis terlihat di sekitar akses Masjid Agung dan kawasan Alun-Alun, terutama ketika aktivitas masyarakat meningkat pada hari Jumat.
Kondisi serupa juga pernah dilaporkan pada kawasan Masjid Agung saat agenda pengajian rutin, ketika keberadaan pengemis disebut mengganggu kenyamanan sebagian jamaah.
Kini persoalan tersebut kembali menjadi pekerjaan rumah penataan ruang publik.
Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pemalang sendiri telah melakukan patroli yang menyasar pengemis, gelandangan, dan orang terlantar. Dalam patroli tersebut, petugas memberikan imbauan, melakukan pendataan, kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk penanganan lebih lanjut.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan persoalan pengemis tidak semata-mata dilakukan dengan pendekatan penertiban, tetapi juga membutuhkan pendataan, pembinaan, dan koordinasi dengan instansi yang menangani persoalan sosial.
Masjid Agung merupakan salah satu ruang publik sekaligus kawasan religi yang ramai dikunjungi masyarakat. Sementara Alun-Alun menjadi salah satu pusat aktivitas warga.
Karena itu, penataan kawasan tersebut menjadi penting agar masyarakat dapat beribadah dan menikmati ruang publik dengan nyaman.
"Kami tidak ingin keberadaan pengemis di kawasan Masjid Agung dan Alun-Alun mengganggu kenyamanan masyarakat. Satpol PP akan meningkatkan patroli, melakukan pendataan dan mengambil langkah sesuai aturan. Namun penanganannya tetap kami kedepankan secara humanis dan akan dikoordinasikan dengan dinas terkait,” ujar Agus Sarwono, Kabid Trantibumlinmas Satpol PP Pemalang,Pada Jum'at ( 25/9 ).
Agus Sarwono juga dapat digambarkan menegaskan bahwa penanganan tidak berhenti pada pemindahan dari satu titik ke titik lain.
Jangan sampai hari ini ditertibkan, besok muncul lagi di lokasi berbeda. Karena itu diperlukan penanganan bersama, termasuk aspek sosialnya.
Sejumlah warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan penertiban sesaat, tetapi membuat pola pengawasan yang berkelanjutan.
"Kami memahami mereka mencari penghasilan, tetapi kalau sampai mendatangi jamaah secara terus-menerus tentu membuat sebagian pengunjung kurang nyaman. Harapannya ada solusi yang manusiawi sekaligus membuat kawasan Masjid Agung dan Alun-Alun tetap tertib,” ujar Dedi, warga Pemalang .
Dengan patroli dan koordinasi lintas instansi, pemerintah diharapkan mampu mencari solusi yang tidak hanya menjaga ketenteraman dan ketertiban umum, tetapi juga memberikan penanganan sosial bagi warga yang memang membutuhkan bantuan.
Sebab, Masjid Agung dan Alun-Alun bukan sekadar ruang berkumpul, tetapi wajah Kota Pemalang yang setiap hari dilihat dan digunakan masyarakat. (Ragil).


