Siaran Kabar | Berastagi, Sumatera Utara — Tokoh Millenial Sumatera Utara, Rabil Zuyura Hanif, S.E., C.Neg., buka suara terkait dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami siswa dan siswi SMAN 1 Berastagi. Sebanyak 255 siswa/i dilaporkan terdampak dan mengalami keluhan seperti sakit perut dan mual-mual.
Rabil menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut dan berharap insiden ini menjadi perhatian serius Badan Gizi Nasional (BGN), khususnya dalam melakukan evaluasi terhadap pengelolaan sumber daya manusia (SDM), standar operasional dapur, serta kualitas bahan pangan yang digunakan dalam program MBG.
“Kami berharap kejadian ini menjadi perhatian serius BGN. Perlu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh terhadap kepala SPPG, ahli gizi, serta seluruh proses pengelolaan makanan di dapur yang bersangkutan,” ujar Rabil.
Menurut Rabil, pengawasan terhadap dapur SPPG harus dilakukan secara lebih ketat, terutama dalam memastikan bahan pangan yang digunakan benar-benar memenuhi standar keamanan, kebersihan, kesegaran, dan kelayakan konsumsi.
Ia menilai jangan sampai orientasi efisiensi biaya justru mengorbankan kualitas bahan pangan yang diberikan kepada para siswa.
“Jangan hanya mengejar harga murah dan keuntungan, tetapi kualitas bahan pangan tidak diperhatikan. Makanan yang diberikan kepada anak-anak harus benar-benar dijaga kualitas dan keamanannya,” tegasnya.
Rabil juga berharap BGN melalui jajaran terkait di Sumatera Utara dapat memperkuat sistem pengawasan dan evaluasi terhadap seluruh dapur MBG, sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Ia menekankan bahwa program MBG memiliki tujuan yang sangat baik, yakni mendukung pemenuhan gizi anak-anak. Karena itu, setiap tahapan mulai dari pengadaan bahan pangan, proses memasak, penyimpanan, hingga pendistribusian harus mendapatkan pengawasan yang serius.
“Program MBG sangat baik dan harus kita dukung. Tetapi kualitas makanan, kebersihan dapur, kompetensi SDM, serta pengawasan harus menjadi prioritas. Jangan sampai program yang bertujuan meningkatkan gizi justru menimbulkan persoalan kesehatan bagi penerimanya,” kata Rabil.
Rabil berharap pihak-pihak terkait segera melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian di SMAN 1 Berastagi. Ia juga meminta agar hasil pemeriksaan disampaikan secara transparan kepada publik sehingga dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG di Sumatera Utara. (SPT)


