Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Label

Beberapa versi Tutur Tinular Makam keramat di kawasan bekas tempat Wisata Wonderia Semarang

Sabtu, Agustus 29, 2026 | 11:14 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-29T04:14:34Z

Semarang / Siaran kabar - Di balik hiruk-pikuk pusat Kota Semarang, tepatnya di kawasan Jalan Sriwijaya, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari, kota Semarang .Melintas Sejenak terdapat sebuah sudut sunyi yang menyimpan rekam jejak spiritual dan perjuangan masa lalu. Area yang kini berdampingan dengan Taman Budaya Raden Saleh serta eks-kawasan Wonderia,pada Rabu, 27 /8/26.


Versi Sejarah dalam Catatan! 


Di lokasi ini menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang ulama dan sesepuh pembela tanah air yang dikenal masyarakat dengan nama Mbah Genuk. Berada di tengah perkembangan modernisasi kota, situs keramat ini tetap berdiri kokoh sebagai oase spiritual yang menarik kedatangan para peziarah dari berbagai daerah tanpa mengenal waktu, karena gerbangnya selalu terbuka selama dua puluh empat jam penuh.


Silsilah keturunan menurut catatan! 

Mbah Genuk berasal dari keturunan Bangsawan Kerajaan Mataram, berikut alurnya sbb; 


Panembahan Senapati ing Ngalaga Berputra Panembahan Djuminah berputra Ray. Satilah Mertokusumo, berputra Ray.Jongkennoyowongso, berputra RM. moh Bustaman,berputra mbah Kyai Genuk. 


Dari silsilah diatas bahwa Mbah Kyai Genuk adalah bukan orang sembarangan karena menurut silsilah beliu sampai ke Raja Mataram pertama!. 


Langkah kaki di area makam ini seolah membawa kita kembali ke masa ratusan tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 1808 saat kawasan ini menjadi saksi bisu berkecamuknya pertempuran sengit. Mbah Genuk bukan sekadar tokoh agama biasa, melainkan seorang pejuang gigih yang mengobarkan semangat perlawanan rakyat lokal melawan cengkeraman kolonial Belanda. Selain menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa, beliau juga dikenal melestarikan kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dan menjaga keseimbangan alam sekitar.


Pengaruh dan karomah beliau begitu melekat kuat di hati masyarakat, terbukti dari suasana makam yang selalu hidup dan mencapai puncak keramaiannya setiap malam Jumat hingga akhir pekan,dan di saat - saat Malam jumat kliwon. Ujar ki Demang Tarno. 




Keberadaan makam kuno ini juga tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Sendang Mintoloyo, sebuah mata air suci bersejarah yang terletak tidak jauh dari situs utama dan sering kali dikaitkan dengan karomah sang ulama semasa hidupnya. Nilai penting dari situs peninggalan ini membuat Pemerintah Kota Semarang secara resmi merawat dan mempromosikannya sebagai salah satu pilar wisata religi utama. Mengunjungi tempat ini memberikan pengalaman mendalam yang memadukan wisata ziarah dengan refleksi sejarah, mengingatkan kita semua akan pengorbanan para leluhur yang pernah bertumpah darah di bumi Semarang. Jika Anda sedang melintasi kawasan Candisari, sempatkanlah sejenak untuk menundukkan kepala, mengirimkan doa, dan meresapi kedamaian yang ditawarkan oleh salah satu warisan budaya paling berharga di jantung kota ini,tegasnya.


Versi pelaku budaya & spiritual jawa! 


Ketua Umum  Yayasan Kedhaton Mataram Agung sebut saja Den Mas Miko panggilan akrabnya, bahwa benar di komplek lokasi area eks Wonderia ada sebuah makam yang masyarakat sekitar menyebutkan makam Mbah Kyai Genuk!. Singkat kata ;Ketika beberapa waktu yang lalu ada sedikit ganjalan didalam hati dan pikiran saya tentang sejarah dan silsilah makam tersebut. Terjawab saat saya mendatangi area makam tersebut untuk bersilaturahmi bersama rekan budaya dan spiritual kota Semarang.Tidak saya kira ketika saya duduk didekat sebuah pohon besar yang sudah berusia ratusan tahun lamanya tiba - tiba saya merasakan suatu getaran lembut menusuk batin saya dan getaran itu seperti gelombang suara yang lirih tapi jelas, alhasil ketika mata saya terpejam saya melihat ada pendopo dengan cahaya lampu terang benderang dan didalam pendopo ada kurang lebih 5 Orang sedang duduk memakai busana kaos warna putih polos dan kain biasa seperti orang yang sedang berkebun. Tak lama kemudian sosok yang ada di pendopo tersebut saling diam tanpa satu katapun, batin saya berkata siapa beliu yang berpakaian seperti rakyat biasa? Seketika suara terdengar ditelinga kiri saya suatu perkataan "lee aku iki wong biasa sing bukak alas iki mergo aku nyasar olehe mlaku soko wetan, aku dudu sopo - sopo, wis ngono wae " Artinya Saya itu bukan siapa - siapa ( rakyat biasa) tapi orang yang Menemukan lokasi hutan pertama saat perjalanan dari Arah Timur . Sontak saya termangguk senada kata njih matur nuwun. 


Dari pengalaman spiritual yang saya dapat dan dari saya membaca silsilah beliau ada cerita yang ambigu / blunder! Manakah yang akurat 100 % sampai saat ini saya hanya diam. 

Apakah sejarah itu harus diluruskan atau sejarah hanya cerita yang membosankan bahkan menjadi cerita sesuai versi siapa yang menulisnya, Mari kita berfikir bijak dan pakailah hati nurani kita masing - masing, tegasnya. (red/Alfian)

×