Siarankabar.com, Pemalang- Di tengah musim kemarau panjang yang menyebabkan krisis air bersih dan keringnya lahan pertanian, warga Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, menggelar tradisi sakral pemanggilan hujan menggunakan boneka Brendung
Ritual tradisional ini dipusatkan di balai desa setempat dengan dihadiri oleh puluhan warga yang membawa berbagai perlengkapan dapur. Boneka Brendung yang dibuat dari tempurung kelapa (cumplung) berkerangka bambu, diberi pakaian, serta dihias kembang telon, diletakkan di tengah ruangan.
Prosesi dimulai dengan alunan musik klothekan tetabuhan ritmis menggunakan alat-alat rumah tangga seperti ember, nampan, dan boyong yang dipadu dengan kidung serta lantunan mantra kejawen oleh seorang pawang.
Saat tetabuhan dan nyanyian mengalun, boneka tersebut dipegang oleh dua orang warga hingga tampak bergerak atau menari secara mistis di luar nalar.
"Kesenian Brendung bukan sekadar tontonan magis, melainkan bentuk ikhtiar batin masyarakat agraris kepada Sang Pencipta saat kemarau ekstrim melanda," ujar
Prakoso salah seorang perangkat desa sekaligus sebagai ketua paguyuban seni brendung desa sarwodadi , kecamatan comal, Selasa ( 28/7 ).
Kesenian brendung sendiri merupakan kesenian dalam bentuk boneka yang terbuat dari tempurung kelapa untuk bagian kepala boneka, sedangkan tubuh’ boneka terbuat dari bambu.
Boneka di rias sedemikian rupa, termasuk di kasih baju, sehingga menyerupai wanita cantik, lalu di tancapkan pada alas tampah atau penampi, menurut si pembuat brendung boneka cantik tersebut di ibaratkan bidadari atau menurut istilah setempat di sebut dengan brendung.
Prakoso menambahkan, bahwa tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana mempererat kebersamaan warga.
"Dahulu fungsinya mengumpulkan warga untuk berdoa bersama memohon hujan, sekaligus wujud rasa syukur atas berkah bumi yang telah diberikan kepada kita," tutupnya. (Ragil).


