Surakarta / SIARAN KABAR - Awan panas menyelimuti kota Surakarta ternyata ada suatu acara jumenengan adat budaya Jawa oleh Kelompok pemerhati budaya dikomplek Cagar budaya, kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026 terlihat beberapa peserta memakai busana Jawa warna hitam jarik variasi coklat memakai belangkon, pertanda busana Jawa Tengahan.
Media memaparkan kegiatan ini termasuk kegiatan budaya adat Jawa yang setiap orang bisa memakai busana Jawa seperti itu, contohnya saat upacara adat, pernikahan adat Jawa, keseharian ( busana) dll. Para pengujung yang hadir terlihat pria dan wanita duduk bersimpuh dilantai dan tanah. Salah satu peserta sangat antusias mengikuti acara tersebut setelah ditanya oleh awak media tujuan ikut acara ini apa? Jawab peserta kita hanya ikut - ikutan saja yang penting transportasi pulang pergi terjamin, imbunya.
Cuaca panas menyelimuti acara tersebut para peserta saling beringinan jalan layaknya pawai karnaval persis seperti acara hari ulang tahun kemerdekaan, padahal hari ulang tahun kemerdekaan sudah berlalu satu bulan yang lalu, dengan semangat tinggi sebut saja joni nama samaran abdi setia yang dari dulu ikut acara menjelaskan bahwa ini acra jumenengan Hanggabei jadi Raja Solo ke Empat belas dan sekalian melestarikan budaya Jawa,
Semua peserta yang hadir kurang lebih ada ratusan orang diantaranya dari salatiga, semarang, Magelang, ponorogo, sidoarjo mereka datang ikut acara ngalab berkah mencari keberuntungan dalam hidup. Berbeda dengan yang lain datang untuk ikut mencari kawan , temu kangen atau reuni sesama pemerhati budaya saat ada acara kumpul bersama, tegasnya.
Kerabat sebut saja Neno, menjelaskan tentang acara tersebut saat ditemui awak media di Sukoharjo tempo hari, Neno hanya memberikan stetmen bahwa acara itu acara jumenengan Hanggabei ke Empat belas dan sebelumnya juga ada acara jumenengan Raja Surakarta ke empat belas bernama Puruboyo, alhasil mereka semua sama - sama mendeklarasikan masing - masing,imbuhnya . Selain itu juga kegiatan tersebut adalah melestarikan adat budaya nusantara khusunya budaya Jawa agar masyarakat tau dan paham.
Bentuk apresiasi budaya nusantara disajikan dalam acara jumenengan oleh lembaga adat yang saat ini santer berseteru degan pihak keraton solo yang dipimpin oleh pemangku adat yakni Sinuwun Puruboyo, pendapat dari para pemerhati budaya, sudah ada Raja kenapa harus ada Raja tandingan?masyarakat menjadi blunder dan khusus untuk masyarakat budaya pasti akan berdampak besar. Apakah mereka memahami akan semua ini atau hanya mementingkan ego, kelompok dan golongannya sendiri? Salah satu Pemerhati budaya yang hadir saat ditemui Media bahwa merekaa hanya ikut saja sekalian berwisata ke kota Solo yang dekat dengan pasar serta berbelanja kebutuhan sehari-hari seprti busana, kerajinan, tosan aji dll, ujar Eko asal kota Semarang.
Berbeda dengan peserta lainya acara itu adalah seperti acara wisata Cagar budaya yang dimana lokasi berada di kawasan Cagar budaya Jawa Tengah dan Cagar budaya lainya, jika situs atau candi biasanya untuk acara ibadah umat kepercayaan atau kapitayan ( kejawen ) ini Cagar budaya yang ada kegiatan orangnya , sehingga cocok sekali sebagi destinasi wisata budaya Jawa, agar budaya tetap lestari, ujarnya (alfian)


