Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Label

Aliansi Masyarakat sekitar candi Gedhong Songo, Masyarakat budaya, Paguyuban Budaya dan Pelestari Alam "MENOLAK " proyek Geotermal panas bumi!!!

Rabu, September 02, 2026 | 17:49 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-02T10:49:50Z

SEMARANG/ SIARAN KABAR –Aliansi gabungan dari Paguyuban Budaya, Pecinta Alam dan masyarakat seluruh kabupaten Semarang yang berdomisili disekitar situs kawasan Candi gedong songo pada Rabu, 2 September 2026 berjalan lancar kondusif. 


Komisi E DPRD desak Dinas ESDM klarifikasi tentang rencana pengeboran tersebut sbb : 


Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geotermal di kawasan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, menjadi perhatian Komisi E DPRD Jawa Tengah.Dewan meminta kejelasan mengenai skema pembangunan proyek, termasuk potensi dampak terhadap masyarakat, lingkungan, serta kawasan wisata dan cagar budaya di sekitar Gunung Ungaran.


Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Komisi E DPRD Jateng memanggil Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng guna mendapatkan informasi terkait rencan pembangunan PLTP tersebut.


Diketahui, proyek panas bumi di Gunung Ungaran telah mendapat persetujuan melalui penerbitan Izin Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) oleh Kementerian ESDM pada 27 Maret 2026. Wilayah kerja tersebut nantinya akan dikelola oleh PT PLN (Persero).


Kepala Komisi E DPRD Jateng Ida Nur Saadah mengatakan, berdasarkan hasil pertemuan dengan Dinas ESDM Jateng, pembangunan proyek strategis nasional tersebut sepenuhnya berada dalam kewenangan pemerintah pusat.


Karena itu, Komisi E DPRD Jateng berencana menemui Kementerian ESDM untuk meminta penjelasan lebih detail mengenai proses pembangunan, skema pelaksanaan, hingga potensi dampak dan risiko terhadap masyarakat.


“Kami akan bertolak melakukan pertemuan dengan Kementerian ESDM untuk menanyakan penjelasan secara detail, mulai dari bagaimana skema atau proses pembangunan hingga dampak dan bahayanya untuk masyarakat,” ujar Ida.


Ida juga menyinggung bahwa rencana pembangunan geotermal di Gunung Ungaran sebelumnya pernah muncul, namun pengerjaannya sempat dihentikan karena adanya kekhawatiran terkait kondisi Gunung Ungaran yang masih merupakan gunung api dan dikhawatirkan dapat kembali aktif.


Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto meminta masyarakat tidak panik terkait rencana pembangunan geotermal tersebut, termasuk kekhawatiran yang muncul mengenai potensi dampaknya terhadap kawasan wisata Candi Gedong Songo".


Rahman Kendalisodo memaparkan bahwa proyek Geotermal panas Bumi di kawasan Candi gedong songo sangat berbahaya dan dapat menimbulkan bencana alam seperti lapindo, dari kejadian yang sudah nyata oleh sebab itu pemerhati budaya, pegiat budaya, pecinta Alam dan Masyarakat sekitar jelas - jelas MENOLAK adanya proyek geotermal tersebut. 


"Kami hanya ingin hidup damai dan tenang di bumi Nusantara ini,untuk apa hidup bergelimpangan harta tapi rakyat jadi korban, mari kita sadar diri terutama pemerintah pusat yang ada di senayan dan istana, coba renungkan secara seksama bahwa di kawasan Candi gedhong songo ada situs leluhur yang sudah berdiri sejak abad ke 8, dan apakah harus hilang / musnah gara - gara kepentingan pengeboran panas bumi ( geotermal) yang santer saat ini diberitakan! Mari kita selamatkan anak cucu kita dimasa yang akan datang", tegasnya. 


Sutikno menjelaskan bahwa Proyek ini bisa mengakibatkan sumber daya Air akan kering,efeknya sampai kota Semrang tentunya air akan habis demikian tegas beliau.Di sambut kembali oleh pak suparmin selaku budayawan setempat menjelaskan adanya Gunung  ungaran yang akan di bor sedalam kurang lebih 2000 meter dapat mengakibatkan bencana alam, berbahaya untuk anak cucu dan sangat beresiko tinggi, gunung Ungaran itu gunung yang sedang tidur, makanya jangan diusik, tegasnya. 


Kita tahu bahwa  kita bagian dari alam oleh karena itu mari kita tolak adanya pengeboran Geotermal di kawasan Gunung Ungaran karena Sangat berbahaya bagi kawasan disekitarnya akan berdampak seperti  Ambarawa, Ungaran, kota Semarang, kota Salatiga dst, tegasnya 


Alfian

×