Jejak Pengungsian Pahlawan Nasional di Tengah Agresi Militer Belanda: Kesehatannya Terkikis di Pedalaman Cineam
Cineam, 11 September 1947
Bandung dan seluruh Jawa Barat tengah berkecamuk dalam panasnya Revolusi Fisik melawan Agresi Militer Belanda. Namun, di tengah gemuruh pertempuran dan Bandung Lautan Api yang telah melalap habis karya hidupnya, kita kehilangan seorang pahlawan yang berjuang dengan pena, bukan senapan: Raden Dewi Sartika.
Pada hari Kamis, 11 September 1947, Dewi Sartika—pelopor berdirinya Sakola Istri (Sekolah Istri) yang kini dikenal sebagai Sekolah Kautamaan Istri—menghembuskan napas terakhirnya di sebuah tempat pengungsian yang jauh dari hiruk pikuk kota, di desa Cineam, Tasikmalaya.
Karya Abadi Ditelan Api, Jiwa Terkuras Gejolak
Sejak masa pendudukan Jepang yang membubarkan sekolahnya dan kemudian peristiwa Bandung Lautan Api (1946) yang menghanguskan gedung sekolah yang ia rintis dengan susah payah, Dewi Sartika harus menyaksikan seluruh hasil jerih payahnya selama lebih dari empat dekade hancur akibat perang.
Pada usia senja (63 tahun), dan dengan kondisi kesehatan yang kian menurun, ia terpaksa menjadi pengungsi.
"Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain demi menghindari agresi militer terasa amat berat bagi seorang wanita yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bekerja keras. Makanan serba kurang, dan obat-obatan sulit didapatkan di daerah pedalaman," tulis catatan yang dikumpulkan dari pihak yang mengurus jenazahnya.
Perjuangan fisik di pengungsian, yang jauh berbeda dengan perjuangan gigihnya melawan norma sosial feodal dan pandangan kolonial demi hak pendidikan perempuan, telah menghabiskan sisa tenaganya. Beliau yang dikenal tegas dan cerdas, sang pendidik yang melahirkan ribuan 'istri terdidik' di seluruh Pasundan, kini tak berdaya di tangan takdir yang kejam.
Kepergian yang Sunyi di Tengah Riuh Perang
Di Cineam, ia sempat dirawat, namun kondisi medis yang parah dan keterbatasan fasilitas di masa perang tak mampu menolong jiwanya. Beliau meninggal dalam kesunyian yang kontras dengan hiruk pikuk semangat nasionalisme yang ia tanamkan pada murid-muridnya.
Meskipun dimakamkan secara sederhana di Pemakaman Umum Cineam, pengorbanan Dewi Sartika adalah pengorbanan tertinggi seorang pejuang di masa revolusi. Ia adalah simbol bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak hanya terjadi di garis depan militer, tetapi juga dalam mempertahankan akal, martabat, dan pendidikan yang menjadi fondasi bagi bangsa yang merdeka.
Jasadnya kemudian dipindahkan ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar pada tahun 1951, sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa-jasanya yang diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1966.
(Mengheningkan Cipta, Mengenang Pengorbanan Pahlawan Pendidikan yang Gugur di Palagan Revolusi)
Sumber Referensi Utama
Biografi Raden Dewi Sartika (Gramedia & Kompas.com): Menyebutkan peran beliau sebagai perintis pendidikan perempuan dan tanggal wafatnya (11 September 1947) di pengungsian Cineam, Tasikmalaya, saat Agresi Militer Belanda.
Repositori Kemendikbud & Jurnal Sejarah: Menguatkan detail pengungsiannya setelah Bandung Lautan Api dan kondisi kesehatan yang menurun drastis akibat kesulitan di masa perang.
Keputusan Presiden No. 252 Tahun 1966: Dasar penetapan beliau sebagai Pahlawan Nasional.
💻Editor: Redaksi Siarankabar


